Kamis, 27 Oktober 2011

Komunitas Protomelayu(asal-usul Orang Simalungun)

Diperkirakan komunitas nenek moyang Suku Simalungun adalah termasuk kelompok “protomelayu” (penduduk pertama yang mendiami Nusantara). Minimnya dokumen yang ada, sering mengaburkan sejarah yang sesungguhnya.
Simalungun adalah salah satu suku batak yang sekaligus menjadi nama sebuah Kabupatern di Sumatera Utara. Secara struktur kesukuan suku Simalungun ini merupakan salah satu suku dalam suku batak diantar lima sub lainnya yaitu: Toba, Karo, Pakpak, Angkola, Mandailing.



Kabupaten Simalungun terletak antara 02o36’.03o1’. Lintang Utara, dan berbatasan dengan lima kabupaten tetangga yaitu: Kabupaten Serdang Bedagai, Kabupaten Karo, Kabupaten Toba, kabupaten Samosir dan Kabupaten Asahan. Wilayah kabupaten Simalungun mempunyai luas 4.386.6 Km2 atau 6,12% dari luas Provinsi Sumatera Utara yang terdiri dari 31 Kecamatan dan 302 Desa (nagori).
Asal-Usul Orang Simalungun
Berbicara tentang asal-usul Orang Simalungun sering mengundang kontroversi dan beranekaragam penuturan. Namun yang dapat dipakai sebagai patokan adalah asal usul yang mengandung bukti – bukti sejarah berdasarkan hasil penelitian. Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa semua penduduk Nusantara kecuali sebagian penduduk Indonesia Timur berasal dari Hindia Belakang (India Selatan). 
Menurut penilitian Prof. G. Ferrand seorang Antropolog dari Amerika menyimpilkan bahwa kedatangan penduduk ke Nusantara terjadi dalam 2 periode. Periode pertama disebut protomelayu yang datang sekitar tahun 1000 SM, yang diperkirakanj yang menjadi penduduk pertama di nusantara. Kelompok ini antara lain adalah Batak(termasuk Simalungun), Toraja, Dayak, dan Nias.
Periode kedua dating sekitar tahun 500 SM dan disebut “deutromelayu” , kelompok ini termasuk orang Jawa, Madura dan Makasar. Kedatangan deutromelayu ini mendesak prtomelayu, sehingga suku protomelayu semakin bergerak dan berpindah ke pegunungan di pulau-pulau Nusantara.
Dikisahkan padfa waktu perpindahan gelombang protomelayu, ada sekelompok penduduk yang hijrah dari India Selatan secara estafet. Awalnya kelompok ini berangkat dari India Selatan menuju Champa(baca:siam=Thailand) setelah beberapa piluh tahun tinggal di Champ, komunitas itu diserang oleh suku Mongolia dari Utara. Kaum pria banyak yang dibunuh dan kaum wanita banyak yang dikawini para pria Mongolia. Dari hasil perkawinan campur ini terlahirlah suatu turunan ras baru berkulit Sawo Matang.
Setelah peristiwa serangan tersebut sebagian dari kelompok ini berpindah lagi dan berpencar dan menuju pulau – pulau di sekitarnya, ada yang menuju Sulawesi dan ada juga yang menuju Sumatera. Mereka yang mendarat di Sulawesi tersebut, beranak pinak menjadi suku toraja. Sementara kelompok yang pindah menuju Sumatera mendarat di Batubara dan dari sana menyebar ke seluruh pelosok Sumatera bagian Utara. Kelompok inilah yang menjadi leluhur Orang Simalungun.

Sementara kelompok ketiga berpindah menuju Tagalog (Philipina), disana beranak pinak dan kelak menjadi leluhur orang Philphina . Bukti kesamaan budaya secara otentik masih terlihat sampai saat ini.misalnya budaya makan sirih serta meratakan gigi (mangkihir ipon). Adalah tradisi meratakan gigi dengan cara memotongnya dengan alat kikir, setelah diratakan untuk menghilangkan rasa ngilu dioles dengan getah kayu sehingga gigi kelihatan berwarna hitam. Budaya ini ditemukanb pada semua kelompok turunan yang telah disebutkan diatas.
Lahirnya Kerajaan Nagur
Mereka yang pindah ke Batubara inilah yang menjadi leluhur orang simalungun sekarang. Di sekitar pantai Batubara mereka mulai menciptakan perkampungan dan tercatat pada tahun 500-an(sesudah masehi) mereka sudah membentuk tatanan masyarakat beserta system pemerintahannya. Pemerintahannya berbentuk kerajaan, yang diberi nama Kerajaan Nagur.
System yang mereka bentuk ini mirip sekali dengan budaya yang mereka warisi dari nenek moyangnya di India Selatan. Bahkan nama Nagur diambil dari nama kampong leluhurnya di India yakni Nagpur. Wilayah kerajaan Nagur tersebut diperkirakan meliputi Kabupaten Asahan, Kabupaten Batubara, Kabupaten Simalungun serta kabupaten Serdang Bedagai sekarang. Hingga kini di ketiga wilayah tersebut masih banyak ditemukan nama perkampungan (desa) dengan lafal bahasa Simalungun. Seperti “Buntu Panei” di Batubara. Sekarang sebagian pelafalan Simalungun tersebut sudah mengalami perubahan, seperti pagurawan yang berasal dari kata pargurouan (tempat bermain) yang sekarang berada di daerah Serdang Bedagai.
Sebagai bukti bahwa Simalungun dulunya adalah peninggalan Kerajaan Nagur, kata nagur banyak dipakai sebagai nama daerah atau kampong di Simalungun, misalnya Nagur Usang, Nagur Panei, Mariah Nagur, Nagur Raja(sekarang : Nanggaraja), dan lain-lain. Belakangan ini kata nagur sering dilafalkan menjadi kata nagori, sehinnga sekarang banyak perkampungan yang memakai kata nagori, seperti Nagori Harasan(Kerasaan), Nagori Dolok, Nagoro Tongah, dan lain-lain.

Menurut hikayat kerajaan Nagur dijelaskan bahwa batas wilayah kerajaan Nagur hamper meliputi seluruh Sumatera bagian Utara. Namun sayang pada suatu ketika kerajaan Nagur mengalami kemarau panjang yang mengakibatkan munculya wabah penyakit hinnga sampai melemahkan sistim pemerintahan Kerajaan Nagur. Sehingga banyak warga yang berlindung/berpindah ketempat yang jauh. Menurut kepercayaan mereka penyakit tidak bias menyebar melewati lautan yang luas, maka mereka smua berpindah menyebrang lautan luas yang ber air tawar disebut Laut Tawar yang saat ini dikenal dengan Danau Toba.



Setelah menyebrangi lautan mereka tiba di  suatu pulau ditengah lautan tersebut, pulau itu mereka sebut dengan nama Samosir.  Kata “Samosir “ berasal dari kata sa  dan  misir/mosor yang artinya serentak berpindah

Selain dari wabah penyakit ada juga beberapa kali invasi dari kerajaan lain untuk menaklukkan kerajaan Nagur. Sehingga Pemerintahan pusat Kerajaan Nagur melemah dan memilih untuk berdiri sendiri (otonomi). Maka terbentuklah 4 kerajaanbaru  yaitu  

Kerajaan Siantar yang merupakan kelanjutan dari pemerintahan pusat kerajaan Nagur yang istananya di pindahkan dari Perdagangan Ketepi Sungai Bah Bolon di Pematang Siantar. 
Kerajaan Tanoh Jawa Kerajaan  ini yang terbentuk di komunitas Orang Jawa letaknya berada dikampung itu sendiri yaitu Pematang Tanoh Jawa. Pada umumnya masyarakat nya  adalah perpaduan antaara masyarakat Nagur dengan orang yang datang dari Jawa.
Kerajaan Panei, Kerajaan yang letaknya berada di wilayah Kecamatan Panei sekarang.   
Kerajaan Dolog Silou, Kerajaan yang beribukota di Pematang Dolok Silou yang terletak di Saranpandang sekitar Saribudolok sekarang.

Keempat kerajaan ini telah menjadi 4 serangkai yang mewarisi kerajaan Nagur.

2.1.         Munculnya Nama Simalungun

Dari catatan dan penuturan orang tua terungkap bahwa sebagian besardari warga Kerajaan Nagur yang berpindah adalah berpindah ke pulau samosir. Mereka menetap dan beranak cucu disana. Sesudah ratusan tahun meninggalkan leluhurnya, tentunya anak cucunya mereka yang di pulau samosir tidak mengetahui lagi secara lengkap tentang keadaan kerajaan Nagur. Bahkan kerajaan Nagur sudah menjadi negeri asing bagi generasi – generasi mereka kemudian.

    Kata Simalungun berasal dari dua pengertian. Pertama adalah berasal dari kata ”sima” yang atinya peninggalon dan “lungun artinya sepi. Jadi Simalungun artinya adalah peninggalan yang sepi. Pengertian lainnya adalah berawal dari “si” yang artinya yang  dan “malungun” yang artinya rindu jadi Simalungun artinya “yang dirindukan” . nama Simalungun resmi digunakan sejak penetapan dalam lembar Negara Hindia Belanda tahun 1906.

2.2.         Masuknya Belanda di Simalungun

Sejarah menctat bahwa dari tahun 1865 hingga tahun 1871, Belanda sudah mulai menelusuri dan mengamati kondisi tanah Simalungun. Simalungun merupakan daerah yang sangat subur, sangat cocok dijadikan perkebunan namun agak sulit ditaklukkan karena watak orang Simalungun yang begitu tegas yang tidak mau dipaksa ntuk bekerja keras. Saat itu masyaraka Simalungun sudah memiliki lahan pertanian sendri dan sangat subur sehingga sudah terbiasa hidup santai, oleh sebab itu Belanda menjalankan strateginya yang disebut “devide at imperanya” (strategi memecah belah)
Seiring telah terbentuknya Simalungun secara otentik yang ditetapkan oleh pemerintahan Hindia Belanda. Belanda yang telah menguasai Simalungun dan mengeksploitasi SDA nya, pastinya sangat membutuhkan orang-orang yg bisa diperintah untuk bekrja sedangkan para penduduk Simalungun asli adalah typical orang yang keras dan tak mau diperintah sehinggah Hindia Belanda terpaksa mendatangkan pekerja dari luar Simalugun untuk dipekerjakan.

2.3.         Masuknya Orang Jawa Di Simalungun
Setelah dibukanya perkebunan di Simalungun masih ada lagi kendala yang dihadapi Belanda, yaitu belanda mengalami kesulitan untuk mendapatkan tenaga kerja untuk menggarap perkebunan tersebut. Karakter orang Simalungun bukanlah tipe buruh. Orang Simalungun tdk bisa diandalkan sebagai kuli. Ada juga yang lain yaitu orang Toba namun tipycal orang toba juga keras dan suka Berontak. Sehingga pilihan jatuh kepada orang Jawa, orangnya tekun, mudah diatur dan tidak banyak tuntutan.

Belanda mendatangkan orangJawa dari Pulau Jawa yang dikordinir oleh Belanda yang sudah lebih dulu menjajah disana. Semakin banyak dibukanya perkebunan semakin banyak juga migrant orang jawa yang dating ke Simalungun.

2.4.         Masuknya Jepang

Setelah sukses menghancurkan Armada laut Pearl Harbour milik Sekutu. Jepang berhasil merebut Asia dari imperialis Barat. Dengan cepat jepang menguasai Asia Tenggara tercatat Jepang masuk ke Nusantara pd tahun 1942 dan sudah maasuk ke Simalungun melalui pelabuhan Tanjung Balai. Terus menelusuri hingga sampai ke Simalungun dan Jepang tertarik ingin menguasai perkebunan peninggalan Belanda.

Setelah 3 tahun menguasai Asia termasuk Nusantara Sekutu melakukan balasan terhadap Jepang dengan me-Bom Hiroshima dan Nagasaki di Jepang. Jepang melemah dan menyerah terhadap sekutu, seluruh  pasukan ditarik kembali ke Jepang. Dengan demikian tahun 1945 berakhirlah kekuasaan Jepang di Simalungun dan Seluruh Nusantara. J  

2.5.         Kemerdekaan Republik Indonesia
Setelah Jepang pergi dari Nusantara akibat kalahny mereka dari sekutu daerah-daerah yang pernah dijajah oleh Belanda dan Jepng memeanfaatkan kesempatan ini untuk menyatakan kemerdekaannya dengan membentuk suatu Negara. Diproklamirannya Kemerdekaan tepat pd tgl 17 Agustus 1945 yang menandakan berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)
Awalnya NKRI tidak langsung diterima oleh kerajaan-kerajaan di Simalungun karena mereka pada dasarnya telah memiliki sistm pemerintahan sendiri. Khususnya penolakan tersebut terjadi di kalangan kerajaan, Raja yang memimpin suatu bangsanya merasa terusik dengan adanya untuk merdeka dan bergabung dengan NKRI sebab akan langsung melengserkannya dari kepemimpinannya. Apalagi semasa penjajahan keluarga kerajaan selalu dpt perlakuan istimewa dari penjajah

  Akan tetapi masyarakat pendatng tidak sepaham dengan kerajaan di Simalungun. Karena sesungguhnya pada zaman itu seluruh kerajaan di di Simalungun ataupun di nusantara kebanyakan adalah antek-antek dari penjajah sehingga diskriminasi yang dilakukan kerajaan sama dengan apa yang dilakukan oleh penjajah pd saat itu. Oleh karena itu NKRI lebih pro kepada masyarakat pendatang dari pada masyarakat kerajaan Simalungun karena NKRI ingin melakukan pemerintahan tepusat sehingga kerajaan-kerajaan di daerah harus dihapuskan sebelum diproklamirkannya kemerdekaan Indonesia. Sehingga pemerintah pusat lebih memilih masyarakat pendatang untuk mengendalikan dan memimpin Simalungun pada awal kemerdekaan.

2.6.         Revolusi Sosial di Simalungun

Pada saat mejelang kemerdekaan para masyarakat pendatang sudah tak terbendung lagi keinginannya untuk merdeka dan lepas dari kekuasaan raja-raja di Simalungun. Dengan mengumandangkan jargo-jargon dari Jakarta, masyarakat yang mendukung NKRI membentuk laskar-laskar  perjuangan Rakyat,  yang bertujuan untuk menekan para pihak yang keeratan untuk bergabung dengan NKRI. Saat itu kerajaan dinilai sebagai antek-antek dari Belanda sehinga Raja Dan keluarga Kerajaan menjadi target dari para lascar perjuangan Rakyat. 

Pada tanggal 3 Maret 1946 raja-raja dan Keluarga nya di revolusi oleh lascar rakyat, raja dan keluarganya di bunuh secara sadis. Revolusi tidak terjadi di simalungun saja tapi seluruh kerajaan di Sumatera timur (Simalungun, Karo dan Melayu). Dengan dalih antek-antek belanda tersebut  raja-raja dan keluarganya di incar dan dihabisi . meskipun sebenarnya dibalik itu  lebih besarr niat untuk balas dendam dan keinginan untuk merampasa harta kekayaan kerajaan. Dan sampai sekarang revolusi Sosial Sumatera Timur tidak perna ditelusuri oleh pemerintah pusat. Meskipun masyaraakat mengenali korban dan pelaku, sebagian pihak meduga bahwa revolusi menguntungkan Pemerintah Pusat sehingga tidak menarik untuk di selidiki lebih jauh.

2.7.         Bergabung Dengan NKRI

Sempat terbentuk Negara Sumatera Timur (NST) akan tetapi perjuangan mendirikan Negara tersebut tidak berjalan sukses. Gelora kemerdekaan dan kebebasan dibawah naungan NKRI jauh mengalahkan gaung semangat NST. Setelah 3 tahun perjuangan mendirikan NST, pda tahun 1950 NST. Sejak saat itulah secara resmi Simalungun dan seluruh wilayah Sumatera Timur kembali kepangkuan NKRI.

Setelah bergabungnya NST ke NKRI, maka Simalungun pun dikendalikan oleh Pemerintah Pusat dari Jakarta. Maka diangkatlah seorang Bupati orang Simalungun yang berjuang dipihak NKRI (diluar simpatisan NST). Bupati yang diangkat tersebut adalah Tuan Madja Purba, anak dari raja kerajaan purba menjadi bupati sampai 1956. Sehingga selanjutnya Simalungun  menjadi suatu Kabupaten di provinsi Sumatera Utara dalam naungan NKRI yang silih berganti dipimpin oleh bupati.

2.8.            Data Kependudukan

Data Kecamatan dan Penduduk Kabupaten Simalungun

NO
KECAMATAN
JUMLAH
PENDUDUKAN
MUSLIM
NON MUSLIM
1
2
3
4
5
1
BANDAR
66,739
48,183
18,556
2
BANDAR HULUAN
26,306
21,583
4,723
3
BANDAR MASILAM
25,940
22,396
3,544
4
BOSAR MALIGAS
45,379
18,058
27,321
5
DOLOK BATU NANGGAR
39,086
16,547
22,539
6
DOLOK PANRIBUAN
19,338
861
18,477
7
GIRSANG SIPANGAN B
14,102
2,119
11,983
8
GUNUNG MALELA
33,571
29,037
4,534
9
GUNUNG MALIGAS
25,357
23,060
2,297
10
HATONDUHAN
19,340
7,766
11,574
11
HUTA BAYU RAJA
32,154
6,980
25,174
12
JAWA MARAJA B.JAMBI
22,379
14,242
8,137
13
JORLANG HATARAN
18,375
8,783
9,592
14
PEMATANG BANDAR
34,167
21,958
12,209
15
PEMATANG SIDAMANIK
15,876
11,906
3,970
16
SIANTAR
61,843
33,916
27,927
17
SIDAMANIK
30,381
14,658
15,723
18
TANAH JAWA
46,789
27,196
19,593
19
TAPIAN DOLOK
33,125
29,688
3,437
20
UJUNG PADANG
44,366
38,778
5,588

JUMLAH
654,613
397,715
256,898

      Kondisi sosial masyarakat sangat heterogen, yang terdiri dari komunitas penduduk asli Melayu, Batak,Jawa, Minang, sebagian kecil Etnis China dan Hindia. Kondisi geografis yang variatif dengan tingkat kesulitan yang berbeda antara satu daerah dengan daerah yang lain dengan kondisi ekonomi secara mayoritas masyarakat termasuk kategori menengah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Silence Project - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger